Sejarah Balikpapan
Mengenang Jasa Para Pahlawan Yang Tewas Pada PD II di Balikpapan
Target Terakhir,Kekuatan Terbesar
Balikpapan bukanlah satu-satunya target operasi tentara Australia di pulau “Borneo“(sebutan untuk pulau Kalimantan dijaman dahulu). Kota minyak Balikpapan justru menjadi sasaran terakhir sekutu. Target pertama adalah menyerang kota minyak yang lain, yaitu Tarakan, selanjutnya Brunei, dan terakhir Balikpapan.
Untuk memastikan kemenangan, ketiga kota ini diserang dengan kekuatan besar. Perbandingan kekuatan Jepang dan Australia ketika itu adalah 1 : 6 untuk Tarakan, 1 : 9 untuk merebut Brunei, dan 1 : 8 untuk Balikpapan. Sebagai patokan, tentara yang menyerbu Balikpapan berjumlah 33 ribu orang.
Sementara itu, sejak menguasainya pada 1942, Jepang telah sedemikian rupa memperkuat pertahanan Balikpapan. Pada tahun 1945 ada 4.000 serdadu dan lebih dari 1.500 lagi di Samarinda. Sedikitnya ada 18 senapan mesin bersarang di tempat-tempat strategis sepanjang pantai, kemudian 26 meriam anti serangan udara, juga 76 buah mitraliur yang mengarah ke udara Balikpapan.
Di lepas pantai kKandasan hingga Manggar terpasang terpasang tiang-tiang penghalang di dasar laut yang dirangkai dengan balok-balok kayu dan diteruskan dengan ranjau yang bertebaran. Meriam anti tank ukuran 12-14 kaki bersarang dari Stalkuda hingga Sepinggan. Semua kubu pertahanan, terutama di Klandasan, dihubungkan terowongan. Pantai selalu diawasi dari pos-pos penjagaan dengan dinding beton yang kokoh, seperti juga banyak terdapat bunker sebagai tempat persembunyian.
Karena itu seperti ditulis Charlton, seorang sejarawan Australia dalam bukunya, The Unnecessary War “Island Campaigns of South West Pacific 1944-45”, “The area was as strongly fortified as any that the Australians had encountered anywhere in the war”, (benteng petahanan terkuat yang pernah dihadapi tentara Australia dalam Perang Dunia II).
Karena itu, para petinggi militer Australia menugaskan Divisi Ketujuh yang dipimpin Mayor Jendral EJ Milford untuk mengambil alih Balikpapan. Divisi Ketujuh merupakan pasukan berpengalaman dalam perang di Papua Nugini. Satu unit yang terkenal dari divisi ini adalah kompi Ke-2 Batalion Ke-12 yang dengan komandan Letnan Kolonel CCF Bourne.
Operasi pun mulai direncanakan sejak 26 April 1945. Kode sandi untuk merebut Tarakan adalah Oboe 1 (Operation Borneo 1), untuk menyarbu Brunei Oboe 6, dan Oboe 2 untuk Balikpapan. Setelah beberapa kali berubah, Oboe 2 ditetapkan 1 Juli 1945 pukul 09:00. Target utama menghancurkan pertahanan Jepang sepanjang pantai Klandasan sampai Stalkuda yang berjarak 2.400 yard. Pantai juga dibagi dalam 3 zona dari Klandasan sampai Stalkuda yaitu Green Beach, Yellow Beach, Red Beach. Brigade Ke-18 akan terjun untuk mengamankan Yellow Beach dan Red Beach guna membuka jalan bagi dua battalion berikutnya. Brigade ini juga akan terus ke perbukitan untuk mengontrol kota, termasuk membebaskan pelabuhan. Brigade Ke-21 yang diperkuat satu battalion akan mendarat di Green Beach, menyapu sepanjang pantai utara, dan merebut pangkalan udara Sepinggan.
Maka ketika tiba hari H dan jam X, 33 ribu serdadu Australia meluruk Balikpapan dan menghadapi 4.000 lebih serdadu Jepang yang tersisa.
“Langit penuh asap dari tangki-tangki minyak yang terbakar. Di pantai lubang-lubang besar bertebaran. Hampir seluruh bangunan dalam radius 500 yard dari pantai hancur berantakan, termasuk setiap pohon kelapa,” tutur Bill Crooks, perwira dari Kompi Ke-2 Batalion 33.
Untuk mengatasi kuatnya pertahanan pantai, 20 hari sebelum tanggal 1 Juli 1945, Australia melakukan pengeboman intensif. 196 pesawat pengebom Liberator terbang dari Tarakan yang memang telah direbut terlebih dahulu.
Akibat pengeboman itu, benteng-benteng pertahanan Jepang sepanjang pantai rusak parah. Hal itu masih ditambah lagi dua kapal perang Australia yang melepaskan tembakan-tembakan meriam untuk melindungi pasukan pendarat . Sementara di laut penyelam dari Angkatan Laut AS telah menyapu ranjau.
Selanjutnya, seperti tertulis dalam Australia in the war of 1939-45 ‘The Final Campaign’ (Canberra: Australia War Memorial, halaman 504-505), meski ternyata sebagian besar pasukan Australia didaratkan pada titik yang salah, yaitu terlalu ke kiri dari bagian pantai Klandasan, pasukan-pasukan itu dengan cepat menemukan kembali sasarannya. Kompi Coy, misalnya: berhasil menguasai satu posisi strategisdi barat laut dan dari situ segera menyerang posisi Jepang pada pukul 17:00. Dengan penyembur api, mereka berhasil menewaskan 25 serdadu Jepang yang bertahan di dalam terowongan.
Terima Kasih Atas Jasa Serdadu Australia.
Peringatan atas jasa-jasa para serdadu Australia dalam usaha mereka membebaskan Balikpapan dari tangan Jepang dalam Perang Dunia II ditetapkan setiap tanggal 7 Juni.
Meskipun para serdadu Australia yang tewas dalam PD II di Balikpapan antara Mei-Agustus 1945 itu dikuburkan di Pulau Labuan, sebuah pulau kecil di Teluk Brunei, di wilayah Kesultanan Brunei sekarang, namun hal itu tidak mengurangi rasa terima kasih kita.
Seperti yang terukir di tugu peringatan yang juga menjadi bundaran di Km.1 jalan Protokol Balikpapan itu, 229 serdadu Australia tewas dan 634 luka-luka sepanjang pertempuran antara Mei-Agustus 1945.

Pertempuran merebut Balikpapan memang menjadi catatan penting dalam sejarah keterlibatan Australia dalam Perang Dunia II. Meski secara geografis Balikpapan tidak memiliki nilai yang lebih ketika itu, Sekutu sangat berkepentingan seperti juga Jepang ketika merebutnya pada tahun 1942. Menjelang perang dimulai, Balikpapan adalah produsen minyak terbesar dikawasan Asia Timur dengan nilai ekspor 1,8 jut ton bahan bakar, minyak pelumas, dan berbagai produk Petrokimia lainnya.Namun karena itu pula, seperti tercantum dalam situs Departemen Pertahanan Australia, tugas merebut Balikpapan diserahkan sepenuhnya kepada Australia. Amerika Serikat cukup membebaskan Philipina dan kawasan Pasifik. Maka, pimpinan tertinggi Pasukan Australia menugaskan Divisi Ketujuh untuk melaksanakan tugas itu. Bersama dengan pasukan yang akan menyerang Brunei dan Tarakan, pasukan amfibi ini bertolak dari pulau Morotai di Maluku.
Tanggal 1 Juli 1945, Divisi Ketujuh melakukan pendaratan di Pantai Klandasan, tepat di depan Lapangan Merdeka sekarang yang juga tepat di belakang monumen. Hari itu, dengan menghadapi perlawanan sengit sekitar 4.000 pasukan Jepang yang tersisa, yang antara lain bersembunyi di gua-gua yang dibangun khusus sebagai kubu pertahanan di bukit-bukit sepanjang pantai, mereka berhasil maju hingga 2 km kedaratan. Kendati demikian, Balikpapan baru bisa dikuasai sepenuhnya di bulan Agustus 1945.















shofwan
29 April 2010 at 6:11 PM
tiap hari minggu pagi rame tuh jalanan di lap.merdeka
macem2 dah kegiatan yang ada di sana